Jakarta, 10 Februari 2026 — UI GreenMetric bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (IDX) menyelenggarakan Awareness Session bertajuk “Next Practices in Sustainability: Safe-to-fail, Seamless Integration, and Scope 1–3 Emissions” untuk memperkenalkan kerangka UI GreenMetric Sustainable Corporate Rankings kepada pelaku industri. Forum ini menyoroti pentingnya pengukuran emisi gas rumah kaca dan integrasi ESG sebagai strategi bisnis inti perusahaan.
Dalam paparannya, UI GreenMetric menekankan bahwa inisiatif pemeringkatan korporasi ini dibangun di atas rekam jejak panjang UI GreenMetric dalam menilai keberlanjutan universitas dan kota secara global. Hingga 2025, jaringan UI GreenMetric telah mencakup lebih dari 1.700 universitas di lebih dari 100 negara, dan kini diperluas untuk membantu sektor korporasi membangun sistem pengukuran keberlanjutan yang transparan dan dapat dibandingkan.
Kepala UI GreenMetric, Dr. Vishnu Juwono, menyatakan bahwa pemeringkatan ini dirancang sebagai instrumen strategis, bukan sekadar daftar peringkat.
“UI GreenMetric Sustainable Corporate Rankings kami rancang sebagai platform pembelajaran dan transformasi. Tujuannya adalah membantu perusahaan Indonesia mengukur, membandingkan, dan meningkatkan kinerja keberlanjutan secara berbasis bukti, sehingga mampu bersaing di ekonomi rendah karbon,” ujarnya.
Sesi utama membahas tren global emisi gas rumah kaca yang terus meningkat dan implikasinya bagi dunia usaha. Data terbaru menunjukkan bahwa emisi global hampir terus naik sejak awal 2000-an, dengan dampak langsung terhadap biaya operasional, risiko rantai pasok, dan akses pembiayaan perusahaan.
Menurut Prof. Raldi Hendro Koestoer, Ph.D, perubahan iklim kini merupakan risiko bisnis sistemik.
“Emisi gas rumah kaca bukan lagi isu lingkungan semata. Ini adalah risiko bisnis strategis yang memengaruhi stabilitas keuangan, operasi perusahaan, dan daya saing jangkapanjang. Perusahaan yang proaktif mengelola emisi justru membuka peluang efisiensi dan akses pembiayaan hijau,” jelasnya.
Konsep Scope 1, 2, dan 3 emissions menjadi fokus penting dalam diskusi. Scope 3 — yang mencakup emisi sepanjang rantai nilai — sering kali menyumbang 70–90% jejak karbon perusahaan, sehingga kolaborasi dengan pemasok menjadi kunci strategi dekarbonisasi.
Dari perspektif strategi bisnis, Dr. Toto Pranoto menekankan pentingnya integrasi keberlanjutan dalam model operasional perusahaan.
“Keberlanjutan harus diintegrasikan langsung ke strategi korporasi. Pendekatan safe-to-fail memungkinkan perusahaan bereksperimen dengan inovasi hijau secara terukur, sehingga keberlanjutan menjadi sumber penciptaan nilai, bukan beban biaya,” katanya.
UI GreenMetric memaparkan bahwa metodologi pemeringkatan korporasi mencakup empat pilar utama: Lingkungan, Sosial, Tata Kelola, serta Riset & SDGs, dengan penekanan pada bukti publik yang dapat diverifikasi. Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan kredibilitas data ESG dan mengurangi risiko klaim berlebihan (greenwashing).
Dalam presentasinya, Rahmi, Ph.D, Manager Operasional, Data dan Riset UI GreenMetric, menambahkan:
“Kami menekankan keterlacakan bukti dan validasi silang per indikator. Sistem ini membantu perusahaan membangun pelaporan ESG yang konsisten, transparan, dan dapat diaudit.”
Forum ini juga menampilkan contoh praktik terbaik dari perusahaan internasional dan nasional yang telah menerapkan strategi pengurangan emisi melalui efisiensi energi, transisi energi bersih, dan manajemen rantai pasok berkelanjutan. Pendekatan tersebut terbukti dapat menghasilkan penghematan energi signifikan sekaligus memperkuat reputasi perusahaan.
Melalui kolaborasi dengan IDX, UI GreenMetric berharap dapat mempercepat adopsi standar keberlanjutan di kalangan emiten dan memperkuat ekosistem bisnis yang lebih hijau di Indonesia.
“Kami mengajak korporasi Indonesia untuk memanfaatkan pemeringkatan ini sebagai alat strategis untuk benchmarking dan transformasi. Keberlanjutan adalah fondasi daya saing masa depan,” tutup Dr. Vishnu Juwono.
Tentang UI GreenMetric
UI GreenMetric adalah program unggulan Universitas Indonesia yang sejak 2010 menilai komitmen keberlanjutan institusi melalui berbagai pemeringkatan global. Inisiatif terbaru, Sustainable Corporate Rankings, memperluas pendekatan tersebut ke sektor korporasi guna mendorong praktik bisnis berkelanjutan berbasis data.
Dokumentasi Acara: